Laman

Jumat, 28 Februari 2014

Relatif???

Saat ini, ketika ilmu pengetahuan semakin berkembang semakin banyak pula orang pintar dan teori mereka tentang kehidupan. Apa yang paling baik tergantung pada pandangan sebagian besar orang, diperkuat dengan teori ataupun pendapat orang yang dianggap pintar. 

Kebenaran bukan lagi sesuatu yang hakiki, namun menjadi sesuatu yang 'tergantung' atau relatif. Apa yang menurut si A benar, belum tentu menurut si B benar. Ketika semua orang berpikir seperti itu, maka hal yang tabu atau dosa sudah bukan lagi menjadi hal yang diharamkan, karena semuanya 'tergantung'. Tergantung orang melihat dari sudut pandang apa, tergantung hal yang dilakukan itu mempunyai dampak yang seperti apa.

Relativitas menjadi tren saat ini. Jika sudah demikian, maka kebenaran kehilangan makna dan dosa atau hal yang tidak sepantasnya dilakukan malah dianggap sah-sah saja. Sederhananya, jika apa yang baik itu relatif, maka menyakitipun dianggap biasa. Dan tidak heran jika dunia penuh dengan kesakitan. Di mana-mana orang menyakiti sesama karena itu baik menurut mereka. Apa jadinya dunia kalau sepeti itu? HANCUR!!

Solusi yang paling baik saat ini, adalah menggunakan etika sebagai acuan menilai sesuatu dan menanggapi sesuatu. Tanpa etika, maka semuanya sia-sia. Dan yang paling penting lagi, tanpa KASIH walaupun kita beretika, kemungkinan untuk menyakiti orang masih ada.
Mari beretika, mari memiliki KASIH, mari belajar menjadi bijak! :D

Jumat, 17 Januari 2014

Keep growing up!

Sudah seharusnya kita bertumbuh. Benih yang sudah ditanam, disirami dan dipupuk sejak lama sudah semestinya mengalami pertumbuhan. Apalagi sudah menerima sinar matahari setiap harinya. Sudah seharusnya ia bertumbuh menjadi sebuah pohon kecil yang kemudian menjadi besar, berbuah yang baik dan dapat dinikmati banyak orang. Bukan saja buahnya yang dapat dimakan, tetapi juga pohonnya dapat dijadikan tempat berteduh dari terik matahari.

Sudah seharusnya kita melangkah lebih jauh lagi. Lebih dewasa dalam iman akan Yesus Kristus. (Ibrani 5 : 11-14; 6 : 1 – 8). Lebih berkobar-kobar lagi dalam melayani Dia, menjadi berkat dalam tutur, tindakan, kasih, kesetiaan dan kesucian (I Timotius 4 : 12). Bukan hal yang mudah, karena ada ilalang, wabah yang mungkin menyerang kita dalam pertumbuhan. Namun karena kita memiliki Pribadi yang setia menjaga kita, merawat kita dari wabah, maka kita tidak boleh menyerah untuk tetap bertumbuh dan akhirnya berbuah.

Terserah sebenarnya mau berbuah atau tidak. Tapi nasib pohon yang tidak berbuah, dipotong dan dibakar. Begitulah kita jika tidak memberkati orang lain. Berbuah atau tidak itu pilihan. Dan berbuah itu salah satu bukti bahwa kita bertumbuh.


Keep growing up!