Laman

Minggu, 03 Maret 2013

Menjaga Hubungan

Banyak hal terjadi dalam kehidupan. Bahagia, sedih, suka, duka. Manusia cenderung lebih dekat dengan seseorang yang dipercaya mampu membantunya ketika ia menghadapi masalah, dan biasanya itu orang yang sudah kita kenal dan dekat dengannya. Sama halnya dengan hubungannya dengan Tuhan. Ia akan menjadi lebih dekat dengan Tuhan lebih dari sebelumnya. Hubungan yang indah terjadi ketika itu. Dalam sebuah hubungan, yang paling sulit adalah menjaga hubungan tersebut daripada memulainya. 

Dalam suatu hubungan, hal yang paling berbahaya adalah ketika kita mulai merasa bosan. Karena dari bosan, muncul bermacam-macam hal lain misalnya malas bicara, mulai menghindar, bisa jadi mulai tidak setia dan paling parah adalah benar-benar berpaling. 

Bosan ini berdampak cukup besar bagi suatu hubungan. Dari mana datangnya bosan? Salah satu alasan mengapa bisa bosan adalah karena kita menjalani hubungan dengan biasa saja, datar. Kembali ke awal. Jika kita mempunyai masalah, otomatis kita akan lebih bergantung pada orang yang kita percaya mampu membantu kita, orang yang dekat dengan kita, orang yang dengannya kita menjalani hubungan. Jadi apa yang mau dikatakan di sini? Sekilas saya berpikir, saya tidak tahu bagaimana orang lain, apakah saya harus mendapat masalah agar bisa dekat denganNya? Atau saya harus cari masalah?

Pertanyaan yang bisa dibilang konyol. Benar-benar konyol. Saya diingatkan, tidak perlu meminta  atau mencari masalah untuk menjadi lebih dekat dengan Tuhan. Karena segala sesuatu sudah ditetapkan terjadi pada waktunya. Ketika menyadari hubungan kita mulai terasa hambar atau renggang, kita hanya perlu mengingat masa-masa indah bersamaNya, mengingat kebaikanNya, bagaimana kita dibuat terpesona olehNya, bagaimana Ia selalu ada ketika kita merasa sendiri. Satu ayat yang menampar saya ketika sempat berpikiran kurang jernih dengan pertanyaan konyol di atas adalah 2 Timotius 2 : 13 : "jika kita tidak setia, Dia tetap setia, karena Dia tidak dapat menyangkal diri-Nya."

Berpikir bahwa Dia jauh dan merasa jadi kurang dekat adalah salah. Ia selalu dekat, setia. Kitalah yang selalu menjauhkan diri dariNya. Bagaimana kita dapat mengabaikan seseorang yang begitu baik, setia, pengertian dan selalu ada di sisi kita? Bagaimana kita dapat merasa biasa jika selalu diperlakukan istimewa oleh seseorang? Masih layakkah disebut hubungan yang dekat jika kita seperti itu? Orang macam apakah kita?

Ingat kebaikanNya, ingat kesetiaanNya maka kita akan tahu apa yang harus kita lakukan, dan bagaimana harus menyikapinya. Tuhan memberkati