Laman

Kamis, 31 Januari 2013

Bertemu Secara Pribadi

Saya ingin membagikan apa yang saya renungkan di pagi tadi, ketika saya membuka Alkitab dan membaca kisah orang tuli yang sekaligus gagap yang disembuhkan Tuhan yang terdapat pada Markus 7 : 31 - 37. Setelah membaca saya berharap ada yang dapat saya pelajari dari kisah itu. Di situ saya menemukan bahwa Tuhan memisahkan orang tersebut dari orang banyak (ayat 33). Padahal dari beberapa kisah sebelumnya, Tuhan menyembuhkan orang sakit di hadapan banyak orang. Yang menjadi pertanyaan adalah : mengapa Tuhan memisahkan orang tersebut dari orang banyak sehingga mereka sendirian?

Jika dipikir-pikir, jika Tuhan menyembuhkan orang tersebut di hadapan orang banyak, maka banyak pula yang akan menjadi percaya padaNya dan memuliakan Allah. Lalu mengapa Tuhan memilih menyendiri dengan orang tersebut? Saya mendapati bahwa Tuhan ingin secara pribadi bertemu dengan orang bisu tersebut. Hmm, saya mencoba memikirkan dan menempatkan diri dalam posisi orang bisu tersebut. Jika Tuhan ingin menyendiri dan bertemu secara pribadi dengan saya, bukankah itu sangat luar biasa? Bukankah itu berarti bahwa saya spesial dan istimewa bagiNya? Saya dapat mendengar dan berbicara saja, itu merupakan hal yang sangat luar biasa, kebahagiaan yang tidak terkira. Apalagi bertemu secara pribadi. Benar-benar memberikan kesan yang sungguh mendalam.

Saya percaya, ketika orang bisu itu pulang ke rumah, ia menjadi orang yang berbeda dan baru. Karena saya percaya ketika seseorang mengalami perjumpaan secara pribadi dengan Yesus, ia diubahkan. Sama seperti Tomas, murid Tuhan yang sempat ragu. Selama Yesus hidup, ia bersama murid lainnya mengikuti Yesus kemanapun Ia pergi. Tomas ikut mendengarkan segala pengajaran Yesus dan ikut menyaksikan mujizat-mujizat yang dilakukan Yesus. Namun ketika Yesus mati, dan ia diberitahu murid yang lain bahwa Yesus telah bangkit, ia sama sekali tidak percaya. Namun ketika Yesus datang dan menampakkan diri kepadanya dan murid yang lain, yang menurut saya secara pribadi Tuhan datang khusus untuk bertemu dengannya, ia menjadi benar-benar percaya. Sepenuhnya ia percaya dan menyerahkan dirinya untuk Tuhan. Bahkan ketika di India ia dijatuhi hukuman siksaan dengan piringan-piringan besi yang membara dan dilemparkan ke dalam perapian yang berkobar tidak ada sedikitpun niat untuk menyangkal imannya. Ia mati dengan memegang teguh imannya pada Yesus.

Betapa luar biasa dampak bertemu dengan Yesus secara pribadi. Memiliki hidup yang diubahkan dan mampu berpegang teguh pada iman. Tuhan memberkati.